Penonton Kecewa

(Tulisan yang dibikin dari mata seorang penggemar film, ordinary people, dan bukan seorang perfilman)


Perseteruan yang baru-baru ini terjadi antara 2 kubu yang berbeda tapi sebenernya mereka punya nama yang sama, yaitu orang-orang perfilm-an, sempat menyita waktu luang saya.

Sudah hampir seminggu ini bentrok yang terjadi antara, sebut saja kaum muda perfilm-an versus orang-orang yang udah lama malang melintang didunia perfilm-an sejak jaman Soeharto muda, yang beberapanya menjabat sebagai dewan juri dari suatu barometer film yang cukup bergengsi (karena umurnya) yaitu Festival Film Indonesia atao FFI.

Tanggal 03 januari 2007 lalu, bertempat di Taman Ismail Marzuki, kaum muda tersebut yang digawangi oleh Mira Lesmana, Harry Dagoe, Hanung Brahmantyo, Riri Riza, Nia Dinata (yang saat itu sedang berada di Singapore) kemudian dari barisan artis muda yang pernah mendapat Piala Citra pada tahun 2004, 2005 dan 2006 macam Tora Sudiro dan Rachel Mariam (dua orang itu yang sempat saya liat pada beberapa infotainment ditelevisi), lalu ada Melly Goeslaw, serta sederet nama lain dari orang perfilm-an muda dan terakhir dari Dedy Mizwar yang menggenapkannya sekitar 33 buah piala citra, ramai-ramai membuat aksi pengembalian Piala Citra.

Menurut Mira Lesmana, hal itu mereka lakukan untuk mengungkapkan kekesalan mereka terhadap sistem penjurian dari FFI yang mereka rasa sudah saatnya dilakukan suatu perubahan. lebih lanjut aksi ini juga disinyalir dipicu oleh penganugerahan film “Ekskul” jebolan dari rumah produksi Indika yang didapuk menjadi Film terbaik tahun 2006 versi FFI. Hanung sendiri bilang, kalau mereka sebenernya tidak bermaksud menyakiti hati siapapun dengan melakukan tidakan yang cukup radikal ini namun menurutnya lagi jika tindakan ini mereka tidak ambil maka protes yang mereka lontarakan pada juri FFI dalam beberapa tahun belakangan tidak akan didengar.

Terlepas dari perseteruan yang terjadi diantara dua kubu perfilman tadi, ada hal lain yang ingin saya komentari sebagai penikmat dan pecinta film. Karena selama ini saya tidak meliat dua kubu tersebut mengangkat pendapat dari para penonton which is orang-orang awan diluaran sana yang sudi meluangkan waktunya untuk menonton film-film garapan mereka dan sebenernya memiliki peranan paling besar dalam kemajuan perfilman khususnya perfilman Indonesia.

Saya sendiri sebenarnya bukan fans berat dari film-film Indonesia secara film-film Indonesia telah banyak membuat saya kecewa. Walau saya akui ada beberapa film yang saya sukai dan saya acungi jempol karena tema dan penggarapannya bagus. Bagus disini, dalam artian tidak banyak celah yang bisa saya komentari (secara “miring” tentunya) karena kejanggalan-kejanggalan, atau ketidaktelitian serta kurangnya survey dari pembuat film tersebut entah dalam segi pengambilan gambar, dialog, akting, atau atribut dan setting latar serta hal-hal lain yang dirasa janggal.

Saya berani berkomentar terhadap film-film Indonesia tentunya karena referensi dari ratusan film-film yang pernah saya tonton. Baik Film dari Hollywood, Bollywood, eropa, dan Asia seperti Jepang, Korea, maupun Cina, dan saya adalah penggemar berat Film-film dari Korea dan Jepang.

Secara kacamata awam, saya juga ingin mengomentari indikasi penjiplakan dari beberapa film Indonesia angkatan baru, yang pernah saya tonton. Pertama dari Ungu Violet yang disinyalir mirip dengan MV (Music Video) dari salah satu penyanyi/ entah grup atau solo asak korea, Kiss judulnya "because Im a Girl /yoja inikka" (googlinglah ke wwwyoutube.com dan bukitkan) dan kedua yang baru-baru ini menjadi pemicu aksi pengembalian Piala Citra tesebut yaitu film “Ekskul” yang terindikasi mencomot music score dari beberapa film, salah satunya lagi-lagi dari film Korea (one of my fav. Movie ever) Taeguki yang pernah ditayangkan dilayar kaca Indonesia beberapa kali (coba klik disini kalo mau tau kelanjutannya).

Ada "komentar menarik" dari orang yang tidak berkompeten dibidang perfilman pada suatu dialog yang gelar disebuah stasiun televisi baru-baru ini bahwa music score hanyalah instrumen penghias tidak penting dalam sebuah film dan hal tersebut membuat saya berfikir (tentu secara awam) bahwa apalah artinya film tanpa music score atau musik pengiring, film horor pasti akan hilang atau berkurang tingkat “kehoror-annya” tanpa music score, film drama akan yang mestinya sedih akan dirasa garing, dan film action pasti akan kehilangan semangatnya karena hilangnya music score dalam film-film tersebut. Menurut saya music score itu adalah nyawa “rasa” pada suatu film, karena ketika kita menonton suatu film, tidak hanya pengelihatan saja tetapi juga pendengaran yang akan di kombinasi dalam otak para penonton yang tentunya makin hari semakin pintar namun kadang-kadang sering dilupakan oleh beberapa film maker (kepintaran para penonton, bukan music scorenya -loh). Makanya jangan heran kalau indikasi diatas suatu hari nanti akan terbukti adanya.

Terus, kenapa saya juga belum bisa cinta film Indonesia?

Karena diera yang katanya kebangkitan dari Film-film Indonesia setelah mati suri dan hanya didominasi oleh film-filmnya Sally Marcelina atau Gitty Srinita, saya tetap masih nemuin film-film dengan tipikal sama cuma beda pemain dan bukan genre esek-esek lagi (well, kalo buruan cium gw dan cewe matrepolis gak pernah dibikin jadi sebuah film). Makanya film Indonesia belum bisa diandalkan untuk saya banggakan dinegeri asing kalo suatu hari nanti saya bisa keluar negeri dan bisa pamer film produksi dalam negeri sendiri, karena saya masih malu.
Tapi untuk menghargai jasa-jasa para sineas film Indonesia, saya selalu beli VDC aselinya loh, yah, hitung-hitung menambah penghasilan dari para film maker yang katanya cari 500 (ato 5000 yah, saya lupa) penonton bioskop aja susah banget.

By the way tentang music score tadi, kalo di Korea (selatan tentunya), Drama serial yang diputer ditipi aja bikin saya ulangi, bikin! music score sendiri loh. Dan kebanyakan mereka ngeluarin OST dari drama itu dalam bentuk CD album, diluar DVD dramanya yang bisa di intip disini kalo gak percaya. Indikasi itu memperlihatkan betapa mereka serius menggarap sebuah serial tipi. Coba di Indonesia, sapa sudi beli DVD sinetron dengan mayoritas music score curian bahkan jalan ceritanya pun curian. huh!


Ciao!

No comments: