20 Jam di Singapura



Ada banyak alasan kenapa saya memutuskan untuk tidak mencari akomodasi ketika dua minggu lalu saya dan beberapa teman menonton SHINee 1st Word Concert yang di gelar untuk pertama kalinya di Singapore.
Dari mulai alasan pengetatan budget karena sebagian besar habis di gelontorkan buat selembar tiket konser (alasan pribadi), sampai faktor penasaran seperti apa rasanya bobo-bobo di Bandara Internasional Changi Singapore. Dari mulut seorang teman yang belum lama ini juga melakukan perjalanan ke Singapore bilang kalau ga’ susah-susah amat untuk stay over di bandara dan pastinya relatif aman, terutama buat wanita.
Berbekal keterangkan tersebut akhirnya saya dan 2 orang shawol (sebutan buat fans SHINee) Jakarta lainnya, Kimmy dan Uti sepakat untuk tidak menghabiskan banyak waktu di Singapore serta tidak mencari penginapan setelah konser usai.
Setelah Tiger Airways yang membawa kami ke Singapore landing di Changi budget Terminal sekitar jam 12 siang, kami segera mencari free shuttle bus menuju subway station Airport. Rencananya saya dan Kimmy akan makan siang dan mampir ke Bugis di Stasiun Bugis jalur East West Line (warna Hijau). Sementara Uti bakal mampir ke Dhouby Ghaut untuk mengambil titipan tiket konser dari teman singaporenya. Saya sendiri udah megang tiket konser dari kapan tau karena memang sengaja beli lewat Smailing Tour di Jakarta. Jadi saya ga' perlu lagi repot-repot untuk tuker di Sistic begitu saya tiba di Singapore.
Selesai lunch sekitar setengah 3 sore, ternyata Kimmy harus segera masuk antrian di venue konser karena dia berada di Pitt (Festival di pinggir panggung). Sementara tiket saya yang numbered seat membuat saya sedikit lebih nyantai dari dia. Akhirnya kami urung menyambangi Bugis dan segera kembali ke subway untuk kemudian menuju stasiun Stadium. Sempat bertemu beberapa ABG yang juga akan menonton SHINee di dalam train yang membuat saya merasa….......tua hahahaha….


Anywhoo, sampai Indoor Stadium antrian merchandise sudah panjang melingkar bak ular di dekat tempat pembelian tiket di lantai dasar. Saya dan Kimmy segera naik ke lantai atas dimana Venue konser berlokasi. Ini kali ke 2 saya bisa mampir lagi untuk menonton konser di sini. Awal Februari lalu saya juga pernah datang ke Indoor Stadium untuk menonton konser Super Show 3 SUJU.
Antrian Pitt mengekor panjang sudah mulai sejak beberapa jam lalu. Karena pintu masuk saya dan Kimmy terpisah, kita sepakat bertemu di Meeting Place setelah usai konser. Ada kejadian menarik ketika saya masuk kedalam venue, dimana semua alat perekam pro benar2 dilarang. Lucunya saya yang sedari tadi menenteng tas kamera terang-terangan malah dibiarkan masuk oleh petugas, sungguh chemistry yang bagus antara saya dan kamera saya yang menghasilan nasib baik :). Maka melengganglah saya bersama kamera tercinta kedalam venue.


-----KONSER SHINEE BERLANGSUNG SANGATLAH KEREN No needs to explain ------


Selesai konser, berkah lagi-lagi menghampiri saya dan teman-teman yang masih blingsatan girang seperti ada setruman 1000 Votase ke tubuh mereka. Salah satu teman Uti menghibahkan beberapa jam terakhir sampai midnight sebuah mobil sedan dengan guide sebagai supir kami. Tak ayal kami segera meluncur ke beberapa destinasi lokal macam Merlion dan (rencananya) Helix Bridge, jembatan berbentuk struktur DNA yang memang belum lama dibangun ini. Sayang, saat tiba di Helix Bridge, pintu masuk sudah ditutup. Akhirnya Kami minta diturunkan di Clarke Quay. Tapi sebelum tiba di CQ sang pemandu wisata itu berbaik hati mengantarkan saya yang kebelet pipis dan teman-teman untuk mampir ke Fullerton. Sebuah Hotel mewah di Financial District-nya Singapore. Bangunan hotel mewa ini dulunya adalah bekas kantor pos yang di preservasi menjadi hotel, keren deh. (Dan akhirnya saya menandai daerah kekuasaan saya dengan cara dipipisin...mmmuaahahahaha)


Touch Down Clarke Quay, kami segera menuju Burger King Whopper Bar dan memesan makanan. We had a great time sharing laugh and joke that time! . Kenyang makan waktu masih sekitar pukul 1 pagi, akhirnya kita pindah ke Clinic. Sebuah open space bar bertema Hospital. Dari mulai minuman yang di sajikan di tube-tube jarum suntik, hingga minuman yang dipasang di kantong infus dan kita minum dengan cara di sedot lewat selang, unik yah? Kursinyapun ada yang menggunakan Wheel Chair, how sick is that? Hahahaha…


Di Clinic harga minumannya terbilang cukup mahal. 1 gelas minuman (saya lupa namanya apalah itu-beralkohol) yang di masukan ke kantong infus harganya sekitar SGD 50. Saya yang ga minum minuman beralkohol dan sekedar memesan soft drink-pun harus merogoh kocek SGD 10 untuk 1 gelas. 

Puas nongkrong di Clinic, akhirnya kami sepakat untuk cabut segera ke Airport by cab. sekitar 23 SGD keluar dari kantong kami untuk membayar taxi fare dari area Clarke Quay ke Airport.

Changi airport jam 3 pagi masih sepi dan belum ada konter cek-in yang buka. Setelah menelusuri bandara yang luas itu, akhirnya kami tergeletak di tempat duduk yang ga' terlalu nyaman. Saran teman saya sebelumnya yang bilang 'nongkrong aja di Coffe Bean atau 'Starbuck' ga membawa hasil yang memuaskan. Karena sofa-sofa telah terisi dan mengharuskan saya dan teman-teman untuk melipir mencari persinggahan sementara.
Mungkin karena udah terlalu cape' akhirnya saya tidur melantai di bandara malam itu. Dingin banget sih, tapi kalah deh sama rasa ngantuk ini. Sedikit catatan, next time kalo saya stay over di Airport lagi, saya akan bawa jaket lebih tebal.

Sekitar jam 6 pagi kami cabut ke Buget Terminal menggunakan shuttle bus kembali. Suasana budget Terminal udah rame' banget saat kami datang. 1 porsi menu burger dari Burger King semalem ternyata cukup buat mengganjal perut saya sampe ga ada keinginan buat sarapan di McD atau di coffe shop lain.
Beres check-in, kita segera masuk ke ruang tunggu dalam sebelum menuju boarding room. Areanya lebih cozy dan banyak duty free shop serta kedai makanan. Fasilitas gratis juga banyak di area ini. Salah satunya mesin pijet kaki serta cellphone charger untuk berbagai tipe HP. Belum lagi komputer-komputer berinternet yang bisa diakses oleh para calon penumpang, gratis juga. Jam 9 pagi kami sudah ada lambung Tiger Airways siap terbang kembali ke Soeta.

I think this was my shortest goin' Abroad journey in my life so Far! ^^


...:::Journey 20 - 21 September 2011::::....





2 comments:

Evri Marzulina said...

gimana cara beli tiket konsernya ya?

Tatz Sutrisno said...

Kalau tiket konser di Sg biasanya beli di http://www.sistic.com.sg
Dan di Jakarta perwakilannya di Smailing tour (senayan city)