Macet menggila di Jakarta, ada apa sih sebenarnya?


Kemacetan yang semakin menggila beberapa minggu belakangan ini, sungguh-sungguh membikin saya (dan mungkin sebagian besar masyarakat Jakarta) menjadi sutreess. Bagaimana tidak, Jarak tempuh yang semula memakan waktu 1½ ~ 2 jam dari rumah saya yang berada di daerah Depok menuju daerah Kuningan Jkt, kini membengkak menjadi 3 jam saja *tua dijalan*. Kalau sudah begini mesti jam berapa saya harus pergi kerja? Jangan-jangan saya mesti pergi kerja disaat orang-orang baru pulang dari rondanya.

Memang sih, bukan hal baru bagi warga Jakarta (dan mestinya pemerintah belajar dari 'kebiasaan' ini dalam hal penanggulangan), ketika musim penghujan datang maka banyak jalanan yang tergenang dan berdampak pada kemacetan di sepanjang ruas jalan Jakarta. Tapi kemacetan yang akhir-akhir ini terjadi seperti akumulasi dari kemacetan-kemacetan yang pernah ada. Sebagian besar orang beranggapan bahwa pembangunan koridor baru untuk busway adalah penyebab utama dari kemacetan itu. Well, mereka gak salah sih, pembangunan koridor busway baru itu memang jadi salah satu pemicu kemacetan yang menggila itu.

Pembangunan yang nampak terburu-buru (10 koridor dalam waktu 6 tahun) dan terlihat tak memperdulikan daya dukung lingkungan dan faktor-faktor yang akan timbul dan bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan koridor busway baru mengakibatkan lingkungan sekitar, baik masyarakat, jalanan, dan lalu lintas yang ada tergagap-gagap menghadapi pembangunan busway ini.

Sadarkah pemerintah, khususnya pemprov. DKI bahwa pembangunan busway beserta armada bus barunya itu hanya akan menambah beban jalan raya serta mempersempit lahan jalan yang sudah terbatas itu. Alih-alih menggusur mobil tua, ataupun bis-bis umum tua yang mestinya sudah masuk masa peremajaan atau dijadikan terumbu karang di kepulauan seribu dalam rangka replacement, Pempov DKI malah menambah jumlah armada bus baru. Sedangkan kopaja masih banyak, Metromini masih berkeliaran serta bis-bis PPD tua masih asik melaju. Belum lagi volume kendaraan pribadi yang makin banyak setiap harinya yang menurut saya menjadi faktor kedua penyebab kemacetan di Jakarta.

Tingkat pertumbuhan volume kendaraan pribadi yang menurut survey bertambah sekitar 350 buah kendaraan roda empat perhari dan kendaraan roda dua atau motor yang bertumbuh sekitar 1500 kendaraan perhari (sumber: radio El-Shinta), menambah beban jalan dan menyebabkan penyumbatan-penyumbatan khususnya di titik-titik persilangan jalanan akibat kepadatan jumlah kendaraan yang meningkat dari hari ke hari dan tidak di imbangi oleh pertumbuhan luas jalan raya yang tersedia.

Faktor terakhir yang tidak kalah penting dalam hal memicu kemacetan di Jakarta, yaitu perilaku pengguna jalan itu sendiri yang kadang-kadang egois dan tidak memikirkan kepentingan bersama. Budaya antri dan tidak saling serobot mestinya harus tetap dipegang teguh untuk seluruh pengguna jalan, baik yang bermobil, bermotor, maupun kendaraan umum, biasanya yang terakhir ini yang sering membuat kemacetan dijalanan, tapi bukan berarti yang lainya menjadi suci. Semua memiliki dosa masing-masing. Kendaraan roda dua yang kadang-kadang melaju seenak hati, menaiki trotoar, menyalip, dan berhenti diatas zebra cross ketika lampu merah. Kendaraan pribadi yang 'hobi' menggunakan jalur busway yang sepertinya memiliki sifat tamak, dan cenderung egois sehingga tanpa malu-malu mereka melewati jalur yg sebenarnya sudah terbaca jelas di rambu-rambu jalanan “khusus Busway” (what are you? Blind? imbecile? or just act stupid?). Pejalan kaki dan pengguna kendaraan umum yang senang betul meyetop kendaraan umum baik naik ataupun turun bukan pada tempatnya.

Kenapa sih Indonesia tidak mencontoh Singapura yang mengharuskan masyarakatnya hanya boleh memiliki satu kendaraan roda empat dalam satu keluarga, sehingga jika ingin memiliki kendaraan baru, maka kendaraan yang lama harus di 'buang'. Jangan mentang-mentang 'lahan' negara kita jauh lebih luas dari Singapura maka kebijakan seperti itu terlihat menggelikan jika diterapkan di Indonesia. Jangan lupa, Indonesia masih pengidap penyakit pembangunan yang belum merata. Semua bidang kegiatan masih tumplek-plek jadi satu di sebuah titik di Pulau Jawa bernama Jakarta.

Walaupun sistem transportasi massalnya memang belum sebagus Singapura, tapi mestinya masyarakat Indonesia mengerti akan hal itu dan mestinya Pemprov DKI juga tanggap, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang biasa timbul kota besar seperti di Jakarta seperti macet salah satunya.


Macet itu menimbulkan ketidak efisienan dan ketidak efisienan menimbulkan kerugian. Dan Jakarta adalah kota yang sangat tidak efisien.


Tatz




2 comments:

si tukang nyampah said...

yiuuuuuuuks...pindah aja ke singapore sini...

tiap hari bisa BMW-an loh, hihihihi

BMW = Bus, MRT, Walk

Ale said...

kan lg gencar-gencarnya SBY kampanyekan sepeda sebagai alat transportasi di Jakarta.

Yuukk.. sepedahan. Tatz, kamu dr depok ke jakarta dan saya dari bogor bersepedahan ke kantor!

Terus kita berangakat jam berapa dr rumah kl gitu ya?