Malam yang Na'as buat Sang Sopir

Semalam, ketika saya pulang dari tempat kerja, mendung yang sejak pagi mengantung akhirnya terpecah dalam bentuk buliran hujan. Hujan cukup deras mengguyur jalan raya, dan membuat udara drop sampai beberapa derajat Celcius. Seperti biasa, saya sangat menikmati keberadaan hujan. Jadi ketika dengan derasnya hujan mengguyur, saya malah asik terlelap di dalam sebuah angkutan mungil yang penuh sesak manusia (salah satu keahlian saya, duduk sambil tidur, dan tidur ditengah-tengah orang asing). Jalan menuju lokasi rumah saya ternyata macet beurat, sehingga sang supir angkot berinisiatif untuk mencari jalan tikus yang dapat menembus kemacetan. Entah sudah sampai mana mobil itu melaju, ketika tiba-tiba mobil berhenti mendadak.

Sang Sopir berkali-kali mencoba men-starter mobil itu, namun tetap tak berhasil. Seorang bapak penumpang tiba-tiba nyeletuk, “Itu dari suaranya, sepertinya bensinnya habis deh”. Dan benar saja, ternyata mobil itu kehabisan bensin.

Persoalan yang sebenarnya sepele itu akan terasa menjadi lebih berat jika pertama, kita ada di jalan antah berantah karena bukan jalan raya, dan akan sulit mencari kendaraan pengganti, dan kedua, hujan makin lebat mengguyur. Akhirnya dengan setelah terpaksa kami para penumpang menunggu sang sopir untuk membeli bensin, Udara semakin pengap akibat terkurung dalam sebuah mobil mungil statis bersama dua belas manusia hidup didalamnya dan saling berbagi oksigen. Tak lama berselang, dengan basah kuyup, sang sopir datang kembali, mengisi tangki mobilnya dengan bensin, dan mencoba men-starter mobil tersebut, tapi ternyata usahanya sia-sia.

“kok, masih belum bisa, pir (sopir maksudnya, bukan tapir)? Emang bensinnya di isi berapa liter?” Celetuk seorang bapak berlogat batak yang duduk didepan.

“satu liter, pak” Kata sang sopir, sambil terus berusaha men-starter mobilnya.

“Yaa…pantesan, kurang dong kalo segitu” Kata beberapa orang hampir bersamaan.

Iya pak, tapi saya gak punya duit lagi” Kata sopir tersebut miris.

Kasian kali kaw, narik tak bawa uang, tarik-tarikin ongkosnya penumpang sekarang, biar kaw bisa beli bensin” Kata sang bapak batak tadi.

Tak lama dengan wajah merana, si sopir meminta ongkos terlebih dahulu kepada kami para penumpang. Sumpah, yang tadinya saya dongkol setengah mati, jadi iba melihat tampang kesusahan sang sopir itu. Tak lama mobilpun bisa jalan kembali. Tidak sampai disitu kenaas-an sang sopir, mobil beberapa kali berhenti setiap kali mobil di rem, sehingga ada penumpang yang bilang “Udahlah gak usah pake rem aja sekalian” yang diikuti kekehan beberapa penumpang didalamnya.

Alhamdulillah, akhirnya saya sampai tujuan, walau mobil angkot ajaib itu sempat dua kali mengeluarkan bunyi letusan pada knalpotnya dan wipernya kaca depannya copot begitu saja ditengah jalan. Nampak jadi malam yang na'as buat si sopir.


4 comments:

tyka said...

kita memiliki keahlian yg sama : tidur sambil duduk, ditengah orang asing.,..

salam kenal btw :)

Tatz said...

hihihi...sama dong
toss dulu ahh...^^
thanks for stopping by..yaa

aroengbinang said...

ketawa sambil berasa kasihan juga dengan bung sopir yg kuyup, dan sepertinya baik hati itu. semoga saja rejekinya ditambah, kesabarannya dipelihara, dan hidupnya bermakna...

de2via said...

sebenernya harusnya sedih ya bacanya... hihi... tapi lucu... untung gak kenapa2 yah, soalnya gak pake ngerem... hihihi...