Menyiasati Titipan Oleh-Oleh Saat Traveling


Semua adalah titipan hahaha~

Saat pertama kali saya backpacking ke Korea Selatan Tahun 2011 lalu, ada beberapa teman - mostly  dari dunia maya - yang mengetahui rencana saya (karena dengan noraknya tentu saya woro-woro di akun sosial media yang saya miliki) dan akhirnya minta dititipi untuk membelikan sesuatu. Karena belum pernah dititipi untuk membeli sesuatu di luar negeri, in the name of friendship (baca: sungkan kalo nolak) saya meng-iyakan saja titipannya. Awalnya saya pikir, toh mereka 'cuma' nitip dibelikan dengan uang mereka sendiri. 

Pada praktiknya, saya tetap harus 'menyisihkan' waktu dan tenaga serta uang (transport) untuk mencari barang-barang titipan tersebut. Tidak bermaksud mengungkit-ungkit ya, tapi azas 'sungkan' ini seharusnya terjadi dua arah. Istilahnya win-win solution biar sama-sama enak, dan ndak ada perasaan 'ngegerundel mangkel' di akhir misi.
Sebenarnya, tidak ada kewajiban lho kalau orang yang abis plesiran itu pulangnya mesti bawa oleh-oleh atau harus bersedia dititipi ini-itu dengan alasan 'kan sekalian jalannn'. Karena ketika mereka merencanakan untuk traveling, tentunya mereka sudah rela menyisihkan waktunya untuk kegiatannya tersebut. Dengan harapan, mereka mampu memaknai dan menikmati perjalanan itu dengan waktu yang terbatas. Utamanya buat para pekerja kantoran yang tidak bisa sesuka hati meliburkan diri untuk traveling.

Jadi, kalau kamu termasuk orang-orang yang kebagian oleh-oleh dari temanmu yang abis traveling padahal enggak minta dibawain, bersyukurlah...coz' you are meaningful to that person hehehe~

Akhirnya ketika saya berkesempatan untuk balik lagi ke Korea tahun 2015, saya memutar akal gimana caranya supaya perihal titip menitip ini berakhir happy ending untuk kedua belah pihak. Lalu saya jadi teringat sebuah website yang dibuat khusus untuk mempertemukan antara 'sang penitip' dan 'traveler' yang mau dititipi dengan beberapa syarat tertentu. Nama websitenya bistip. info keberadaan website ini datang dari salah seorang penggiat traveling yang juga penulis beberapa buku ber-genre 'how to'  tentang traveling hemat; mbak CK.

Berangkat dari hal tersebut, akhirnya saya register dan iseng-iseng membuka trip yang intinya bersedia untuk dititipi dengan rute sesuai lokasi tujuan traveling saya. Saya pikir, karena saya pernah ke Seoul sebelumnya, setidaknya sekarang saya enggak buta-buta amat buat jalan sendiria (saya pergi bareng teman-teman) untuk mencari atau mengantarkan titipan tersebut.

Hei, tak disangka beberapa peminat titipan mulai menghubungi saya lewat website bistip tersebut. Mayoritas peminat memang tidak saling mengenal, tapi ada beberapa yang ternyata kenal saya lewat FB dan uniknya salah satu penitip tersebut malahan adalah teman satu kelas ketika dulu pernah kursus bahasa Korea di Fakultas Bahasa UI. Wah, ternyata kami dipertemukan kembali di website titip menitip ini. 

Tidak semua peminat memang akhirnya sepakat menggunakan jasa saya untuk menitipkan atau minta dibelikan sesuatu dengan berbagai alasan. Tapi ada juga beberapa yang sepakat dan akhirnya transaksi kami berlanjut ke personal message semacam WhatsApp dan Line. Belum lagi titipan dari teman atau temannya teman yang tetap saya terapkan 'kebijakan' bistip pada mereka.

Di Bistip sendiri tidak ada aturan baku mengenai berapa persen 'fee jasa titipan' yang ingin kita terapkan untuk setiap titipan. Awalnya saya sampai menanyakan langsung dengan pihak bistip perhial ini. Mereka memang menyerahkan sepenuhnya kembali pada traveler yang membuka jasa titipan ini. Akhirnya saya menerapkan fee titipan barang 100 ribu/1 kg dan saya hanya bisa dititipi maksimal 3 kg serta tip sebesar 10-20% dari harga barang untuk setiap titipan pembelian barang di Korea dengan sistem saya yang menanggung ongkos pembeliannya lebih dulu.

Yeap, saya menerapkan fee untuk setiap transaksi titipan lewat saya. Saya sih ingin berlaku adil saja. Artinya, saya tidak memaksakan mereka untuk melanjutan titipannya lewat saya jika mereka merasa tidak setuju dengan fee yang saya terapan. Sayapun tidak akan meng-iya-kan semua titipan yang masuk pada saya karena saya akan mem-filter dengan syarat-syarat yang saya tetapkan.


Jadi terdengar di-bisnis-in, ya? Emanggg hahaha... Tapi jujur, deh. Kalau tidak seperti ini, sampai kapan orang-orang bakal paham bahwa menitip itu ada harganya. Menitip itu tidak sekadar say 'thank you' dan 'tolong' loh. Ada tenaga, usaha, bahkan uang yang keluar dari hal tersebut yang mungkin tidak terpikir oleh yang menitipi. Ini juga jadi catatan buat diri saya sendiri.

Salah satu barang titipan yang harganya jutaan rupiah ^__^

 Beberapa orang yang saya temui dari bistip akhirnya 'deal' untuk menggunakan 'jasa' saya menitipkan barang dan membelikan sesuatu di Korea. Lumayan juga, lewat fee titipan mereka saya jadi bisa menyewa mobile WiFi yang harganya cukup mahal itu.

Tapi saya tetap punya hati kok. Untuk teman-teman baik saya tentunya hal ini tidak berlaku. Lagi pula mereka lebih paham ketimbang teman selewatan saja sih.


5 comments:

lovelydebz said...

Waaaaaaaah baru tau ya ada bistip ini...dan gue adalah orang paling heboh beliin oleh2 ke orang sampe gue sendiri nggak kebeli apa2. Akhirnya pernah di snap sama seorang teman..sadar deh sampe sekarang hahahahaha..

Unik6 - Lifestyle & Trending Topic said...

emmang harus sedikit egois ya... hhhe...

20 kota traveling paling murah untuk backpacker

Tatz Sutrisno said...

Awalnya aku juga gitu. Tapi kesini kesini mah udah cuek - kalo ada waktu dan uang ya dibeliin, kalo enggak ya udah hehehe

Tatz Sutrisno said...

Hehehe gpp deh egois. Kan perginya juga pake duit sendiri

Rissa Rachmalia said...

wah suka deh ma kata2 "menitip itu tidak sekedar say 'thank you' dan 'tolong loh'..
kadang suka ngedumel sendiri ma orang2 yang dengan nyantainya nitip ini itu..kan qt jalan2 mo refreshing.bukan mo beli titipan2 mereka..huhuhu #jadicurcol