[ThaiTrip] Shocking things at Pattaya



Bangkok 7 Oktober 2012.

Pagi ini adalah hari ke 3 saya di Bangkok. Saatnya pindah dari  Hostel di kawasan Chakrapong menuju ke  tenggara Thailand. Ke daerah pantai yang katanya...well, saya beneran ga googling apa-apa soal Pattaya ini kecuali untuk objek wisatanya, maka bye..bye..kawasan bule! Yaiy!....kawasan pesisir!. Berharap bertemu laut atau pantai yang indah....hmmff..tercapaikah impian saya? Mari sini dengar cerita saya tentang Pattaya.

Pattaya adalah Kota pesisir di sebelah tenggara Thailand dan jaraknya kira-kira 165 km atau sekitar 2 jam perjalanan darat menggunakan moda bus dari Kota Bangkok. Untuk ke Pattaya, rombongan 'ondel-ondel'  kami (hahaha) memilih jalur Eastern Bus Terminal di  Ekkamai (dan saya selalu suka suara sang announcer di BTS ketika menyebut "Ekkamai"). Letaknya persis di dekat Ekkamai Skytrain, kawasan Sukhumvit. Eh tapi selain Ekkamai, nih ada beberapa alternatif terminal di Bangkok juga yang nyediain bus menuju Pattaya, ada 3 terminal bus dan 1 halte bus menuju Pattaya :

 (Source : Here)

Sengaja berangkat pagian biar sampe Pattaya masih siang, masih bisa jalan-jalan ke pantai, maen pasir, pake bikini/burkini dan berjemur (uhuk!). Karena kami ga tau persis di manakah gerangan Terminal Bus Ekkamai ini akhirnya seperti biasa kami menyetop taksi. Awalnya beberapa taksi yang saya stop sebelumnya ga mau menyalakan argo mereka, tapi akhirnya dapet taksi yang baik hati, dan suka menolong. Saya lupa tanya namanya tapi bapak ini sepanjang jalan bercerita mengenai apa saja yang kami lewati di sepanjang jalan dari Chakrapong ke Ekkamai ini.

Saking akrabnya, temen saya tak lupa berfoto dengan pak supir taksi ketika kami tiba di terminal bus Ekkamai tersebut :D. Terminal busnya tidak mewah-mewah amat. Selintas mirip dengan terminal bus di Jakarta, hanya (jauh) lebih bersih, dan lebih sepi. Tidak seperti terminal Kampung Rambutan misalnya, yang bikin orang sawan dan stress saking semrawutnya. Ruang tunggunya terbuka, namun gampang untuk boarding pada bus-bus yang akan dituju. Harap-harap cemas kami menunggu bus kami yang akan membawa kami menuju Pattaya. Berharap busnya dapet yang bagus, cemas kalau dapat yang ca'ur seperti bus kelas ekonomi di Indonesia yang ngebut macam dikejar hantu tak lupa suara dangdut koplo jedar-jeder sepanjang jalan menuju daerah-daerah pesisir. 
Tak lama bus kami datang. Hamdalah busnya walau terlihat seperti PPD tapi kondisi interiornya cukup bagus. Dan satu hal yang paling penting; jarak antar bangkunya  luasss...asik sekali. 

Pattaya, here we come! 
Zzzz...iya. Saya kebiasaan deh kalau sudah di atas kendaraan, apalagi bus. Pasti tertidur. Jarak Bangkok - Pattaya yang sekitar 2 jam dengan bus itu saya lewati dengan bobo manis. Eh, tapi katanya ada ya, yang tidak bisa bobo di atas kendaraan. Baik pesawat, maupun kendaraan darat. Jika begitu, saya cukup bersyukur karena bisa gampang bobo di mana saja. 

Tiba di Pattaya kami agak shock. Mungkin karena kita punya Bali yang pantainya effortlessly beautiful. Pattaya jadi seperti potongan kecil dari salah satu tempat di Bali yang, ehmm...paling jelek. Apalagi ketika kami datang, air laut sedang pasang (padahal masih siang). Jadi boro-boro pasir, cuma air laut yang keruh serta deretan warung-warung enggak jelas di sepanjang bibir pantai. Yang lebih bikin (saya) stress, matahari masih terang benerang tapi yang 'jual kehangatan' udah pada beredar. Kami jadi makin males ya jalan-jalan di pinggir lautnya. Nanti ada yang salah nawar, gawat urusannya. Akhirnya kami ended up di mall dan muter-muter saja  di dalamnya sampai jelang malam. Yang menarik, di sepanjang pinggir pantai, saya kerap menemui balita dekil (maksud saya bukan seperti wisatawan tapi seperti akamsi;anak kampung sini) tapi blasteran. hmm...menarik. 

Keluar dari Mall malam sudah menyergap. Yang 'jual kehangatan' makin terlihat jelas karena mulai banyak 'demand' yang juga hilir mudik. bar-bar serta cafe di sepanjang jalan sudah mulai hidup. Kami terus berjalan menyisir trotoar seolah tak ingin berlama-lama dalam kawasan ini. Kembali ke hostel adalah keputusan yang terbaik, pikir kami. Tidak ada 'keluar sampai malam banget', malam itu. Kami memutuskan untuk tidur lebih awal. 



(bersambung)




No comments: