[Myanmar Part 1] Menangkap Sunrise Dari Atas Pagoda


Terengah-engah di pagi buta saya kayuh terus sepeda saya. Matahari saja belum ada. Oh well, ya karena saya memang mau menangkap momen kemunculannya. Ini hari kedua saya di Bagan, dan hari keenam saya di Myanmar.
Bagan  yang sering disebut juga Ancient City adalah sebuah kota di region Mandalay, Myanmar. Disebut Ancient City bukan tanpa sebab. Ada lebih dari 2.200 situs candi dan stupa yang masih bertahan hingga kini dan tersebar di belahan wilayah Bagan.

Di hotel tadi, rombongan kami diberi opsi untuk memilih 'kendaraan' apa yang bisa dipakai menuju ke tempat tujuan kami. Apakah sepeda atau kuda yang bakal menjadi tunggangannya. Lalu saya pun memilih sepeda karena saya pikir saya lebih menguasai kendaraan ini. Agak menyesal juga sih kenapa tadi tidak memilih kuda saja dan bukan sepeda sialan ini. Tapi........saya belum pernah naik kuda. Akhirnya pilihan tetap jatuh ke sepeda sajalah. "Hitung-hitung olahraga" kata saya setengah jam lalu......sebelum saya sadar kalo naek sepeda itu bikin mau mati capeknya ...

Huff...huff...teman-teman sepersepedahan saya sudah nun jauh di depan sana, nampak memang saya yang paling belakang sekarang. Untungnya jalan ini sudah dilapisi aspal yang cukup baik. Udara pukul 4 pagi di Bagan tidak bisa dibilang terlalu dingin. Apalagi sekarang saya sedang sibuk menggenjot sepeda, wah udaranya seperti mengelus-elus wajah saya yang kemungkinan sudah merah padam mengejar ketertinggalan saya dengan yang lain. Salah satu orang dari pihak tour yang mengawal kami dengan sepeda dari arah saya menuju, muncul lagi menghampiri dengan lincah. "Are you okay, miss?" tanyanya dari atas sepeda yang (terlihat) seringan bulu. "Yes, Im fine" kata saya tersenyum sok oke. Lalu ia berputar-putar sebentar, kemudian melesat kembali ke depan diiringi senyum pilu saya yang masih berusaha menggenjot sepeda ini.
Pemandangan di sekeliling saya subuh itu selain pekat hanya padang rumput, pepohonan dan sesekali beberapa situs candi kecil. Tidak ada rumah penduduk, pos hansip, apalagi Mc.D...tambah huff.

Setengah jam kemudian (kayanya sih) akhirnya tikungan menuju candi atau pagoda yang dimaksud terlihat. Saya gembira bukan kepalang. Akhirnyaaaaaa.....

Oh iya, pagi ini kami bakal menangkap salah satu golden moment alam. Yaitu Sunrise. Ga' tanggung-tanggung, untuk mendapatkan view yang ciamik, kami semua harus naik ke sebuah pagoda bernama Dhammayazika Pagoda. Salah satu pagoda terbesar di Bagan. Tiba di atas, ada beberapa penduduk yang sedang berdoa. Di depan lilin-lilin mereka, mereka berdoa seperti bersenandung khas Budha. Kelompok penunggang kuda tiba aga' terlambat. Lalu kami mulai duduk di tepian batu-batu pagoda tersebut, menunggu sang foto model alam yang tak pernah lekang pesonanya dimakan waktu. Matahari.

Selain foto, saya juga sempat mengabadikan lewat video suasana ketika saya menunggu fajar meyingsing itu. Kedengeran suara burung-burung berciap-ciap ya, sementara suara manusianya hanya bisik-bisik. Kayanya kami semua khidmat ke arah timur dengan kamera-kamera segala jenis yang siap membidik.



Dan..eng-ing-eng...dengan kamera non SLR serta kamera smartphone
inilah beberapa hasil tangkapan saya. Lumayan lah buat orang awam photografi 'cem saya ^^

Masih ada bintang, tapi semburat fajar mulai muncul...keren deh.

View aga geser ke kanan dari gambar di atas.
Mataharinya perlahan mulai muncul.......wooow

Tring! doi muncullll

View geser ke kanan banget setelah matahari separuh muncul...cakep.

Para 'penangkap' matahari pagi ^_^


Foto bareng dulu sebelum turun


Semua rasa capek, letih, betis kenceng karena bersepeda hilang begitu saja. Semuanya terbayar dengan pemandangan-pemandangan indah pagi ini, menyenangkan sekali! So much worth it!


Kejutan lain.

Belum selesai wajah-wajah sumringah kami pagi ini karena baru saja disajikan momen spektakuler, tak berapa lama pemandangan mengejutkan lain yang tak kalah spektakulernya perlahan muncul di hadapan kami. Balon udara. Tidak hanya satu buah (seperti yang ada di Gold Coast) tidak juga dua atau tiga, tapi cukup banyak jumlahnya. Entah berapa. Saya terlalu takjub untuk menghitungnya. Lagi-lagi kamera-kamera kami sibuk kembali membidiknya. Ah senanggg~ Bukan pemandangan sehari-hari soalnya.

Balon gas udara dari kejauhan yang mulai mengangkasa 


Takjub....pengen naek....tapi mahal.....gak jadi.


Makin lama Balon udaranya menghampiri kami!


Lalu lewat di atas kami! - eh, masih ada bulan ^^

Pemandangan yang tak dapat diingkari indahnya
Ciao!

Bersambung yaaa...

5 comments:

FIKi said...

Aaaaaaaaakkk bagus2 amat Tatz....
Kereeennn iih...
Ayo buruan disambung lagi nulisnya, gw kan msh pengen baca:p

Tatz Sutrisno said...

@FIKi

thanks udah baca fikkk...
hehehe...lagi nyoba nulis sambungannya nih, ditunggu~

Joshua Gk said...

Cool !
wanna be there some day.
I hope you wanna visit my blog too :D

http://travelshroom.blogspot.com

arievrahman said...

Aih, cakep banget kak!

Enakan naik balon apa manjat kuil ya? Hahaha.

Tatz Sutrisno said...

@Arief Makasih yaaa udah berkunjung ke sini.

Mungkin naik Balloon juga seru (pastinya) tapi karena harganya lumayan banget akhirnya milih manjat kuil aja deh hehehe