Sumatera Barat. 3 Hari 6 Kota berbagi ceria!


Jum'at, 25 Januari 2013.
Perjalanan ke Sumatera Barat kali ini sih lebih ke Weekend Getaway  pergi Jumat dan pulang Minggu malam . Jadi awalnya ada teman yang nawarin tiket promo Mandala Air untuk rute baru mereka Jakarta-Padang di akhir Januari. Kebetulan ada tanggal merah di hari Kamis yang tentunya berpotensi mejadi Har-Pit-Nas buat para karyawan macem saya ini. Combonya, saya belum pernah ke SumBar dan penasaran, ditambah tiket tadi harganya diobral saja dong jadi 50 ribu perak PP. Akhirnya saya putuskan buat ikut perjalanan (yang ceritanya) backpacking ini. 

Oh, soal tiket tadi sebenarnya bukan saya yang beli. Temannya teman saya ini menjual tiketnya pada saya karena ia ga jadi pergi. Dengan sedikit 'ngakali' yaitu KTP tanpa foto (karena bakal diganti foto saya, hehehe), akhirnya saya yang pergi deh.

Saya ga sendiri kesana. Makanya kami bisa menyewa sebuah mobil travel jenis Kia Preggio untuk road trip sehingga bisa menempuh 6 kota dalam 3 hari. Sebenarnya sih rekan-rekan perjalanan saya ke SumBar ini udah pada nyampe duluan di hari Kamis. Saya yang harus menyusul di hari Jum'at jadi ngerasa solo backpacker di awal perjalanan, seru banget!

Gimana cara ke Payakumbuh dari Bandar Udara Minang Kabau?
Gampang. Kalau mau dengan cara mahal bisa naik taksi resmi yang ongkosnya bisa diatas dua ratus ribu sekali jalan. Tapi kalau pakai cara ngirit modelan saya, naik saja Bus Damri yang mangkal di pintu keluar sebelah kiri. Lalu nanti minta turun sama kondekturnya di sekitaran Simpang Plaza Minang. Tepatnya di depan Hotel Premier Basko. Lalu menyeberang untuk naik mobil-mobil travel yang banyak mangkal di situ. Waktu itu saya naik Travel 'Talago Biru'. Jenis mobilnya Elf non-AC. Tarifnya untuk Damri Rp. 18.000 perak sedangkan untuk mobil Travelnya Rp. 20.000 dari Kota Padang sampai Payakumbuh. 


Lembah Harau di daerah  Payakumbuh

Lembah Harau adalah destinasi pertama saya setelah saya berhasil "dipungut" alias akhirnya bertemu dengan rekan-rekan perjalanan saya yang lain di sekitaran Payakumbuh. Di sepanjang jalan menuju Lembah Harau ini indera pengelihatan saya seperti tak habis-habisnya disuguhi hamparan sawah hijau dengan tebing-tebing tinggi yang menjulang di kanan kiri jalan. Seakan perlahan kami masuk kedalam suatu dimensi lain yang lebih purba dan menggantikan gedung-gedung pencakar langit khas ibukota serta hamparan kemacetan mobil dan motor menjadi deretan tebing-tebing cadas dan hamparan padi yang mulai menguning. Sejelek apapun jenis kamera yang kamu bawa, pasti hasilnya tetep keren kalo ambil gambar si Lembah Harau ini.

Jalan beraspal dengan hamparan persawahan serta (ini gongnya) diapit oleh dua bentangan tebing-tebing cadas adalah ciri khas Lembah Harau. Kurang lebih seperti di atas gambarnya. Saya bernah berdejavu tentang gambar di atas dengan tebing cadas di phi-phi Island-nya Thailand, Lembah Harau itu versi daratannya menurut saya, hehehe...

Karena malamnya kita menginap di salah satu hostel di Bukittinggi, setelah dari Lembah Harau hari yang beranjak sore mengiringi perjalanan kami menuju kota berhawa sejuk tersebut. Bukittinggi sangat terkenal dengan landmark ini. Bahkan menjadi landmark Padang secara keseluruhan. Ya apalagi kalo bukan Jam Gadang.

Jam Gadang yang konon mesin jamnya cuma ada 2 di dunia (iya, satu lagi yang ada di London; Big Ben) ternyata berada tepat di alun-alun Kota Bukittinggi. Semua tumplek jadi satu di situ, ya pasar, ya kaki lima, ya pengunjung, badut-badut pengamen, rame banget. Belum lagi irama melayu khas Padang yang didendangkan dengan sebuah organ berpengeras suara, menambah pikuk saja area Jam Gadang ini. Untung saja hawa sejuknya membikin hati setiap orang tetap sumringah (hati saya sih :p). Jadi, memandang Jam Gadang yang berdiri megah diiringi lagu-lagu melayu dan udara sejuk nampaknya bakal terus membekas di memori saya. Itu kombinasi yang unik sih.

Acara malam pertama di Bukittinggi ini di tutup dengan dinner at Nasi Kapau "Uni Cah", hohoho~ bye-bye diet.


Primadona Bukittinggi yang tak pernah lekang oleh masa
Sabtu, 26 Januari 2013.
Selesai check out dari penginapan kami (Hello Guesthouse-Bukittinggi), pukul delapan pagi kami sudah meluncur menuju Batu Sangkar. Tapi sebelumnya mumpung masih di Bukittinggi, kami mampir sebentar ke sebuah rumah yang istimewa yang sekarang dijadikan semacam museum ini.

Rumah Kelahiran Bung Hatta dibangun asri tepat di tepi jalan Soekarno Hatta, Bukittinggi. Rumahnya didominasi oleh kayu dan bambu lengkap dengan pekarangan mungil yang menambah keasrian rumah berlantai dua tersebut.  Rumah istimewa ini di dalamnya masih menyimpan perabotan-perabotan semasa Bung Hatta tinggal di situ. Lalu ada beberapa bangunan kecil di belakang dan samping rumah utama. Salah satunya yang membuat saya terkagum-kagum adalah bangunan Istal kuda. Selain itu ada kamar bujang (pembantu) dan bangunan lumbung padi.





Another iconic tourism object terletak di Batu Sangkar. Setelah bergerak sejak jam 9an pagi dari Bukittinggi, akhirnya  pukul 11 siang kami tiba di Batu Sangkar untuk menyaksikan salah satu objek terkenal tersebut, Rumah Gadang.

Rumah khas Sumatera Barat ini  begitu memikat untuk diabadikan. Terletak di sebuah lahan yang luas dan berlatar perbukitan yang cantik. Tak  terlalu menghabiskan waktu banyak di sini, mengingat tujuan kami berikutnya adalah Sawahlunto yang jaraknya beberapa jam dari Batu Sangkar. Belum lagi kami harus makan siang dahulu. Maka itu, setelah puas mengambil beberapa gambar dan berfoto dengan latar rumah ini kami langsung tancap gas........ke rumah makan terdekat :D



Setelah puluhan goncangan karena kualitas jalan menuju Sawah Lunto yang kurang mulus dan di beberapa titik malah terjadi longsor kecil akibat hujan dari beberapa hari lalu, akhirnya kami tiba juga di sebuah kota kecil yang di kelilingi perbukitan bernama Sawah Lunto.

Saya mengetahui Sawah Lunto dari buku-buku pelajaran jaman SD dahulu dimana kota kecil ini sangat terkenal akan hasil tambangnya berupa batu bara. Tak menyangka saja bakal mengunjunginya sekarang. 

Tak dinyana Sawah Lunto ternyata sedang giat berbenah, terutama untuk bidang pariwisatanya. Pantas saja belum lama ini  pemerintah Kota Sawah Lunto  sampai berpromosi hingga ke Jakarta dan menggelar pertunjukan di Taman Ismail Marzuki. Kota Sawah Lunto merupakan kota kecil  sangat asri dan cukup tertata. Bangunan-bangunan peninggalan sejarah masih sangat terawat dan banyak yang beralih fungsi tanpa menghilangkan identitas dari keotentikan bangunan tersebut. 


Lihat deh, ada tulisan SAWAH LUNTO di atas bukit, ga kalah dari HOLLYWOOD atau PATTAYA hahahaha





Ada beberapa highlight spot wisata yang sayang sekali kalo ga' disambangi ketika kamu telah sampai ke kota ini. Beberapa diantaranya adalah :

Terowongan Mbah Suro

Untuk keterangan lebih lanjutnya bisa di googling saja tentang salah satu objek wisata utama ini. Tapi, mengunjungi sebuah terowongan yang menyimpan banyak sejarah (kalau tidak mau dibilang misteri) bahkan belum sepenuhnya di telusuri dan di buka untuk umum ini merupakan  pengalaman yang cukup menarik dan berharga.  Karena tingkat kesulitan yang cukup tinggi dan nilai historikalnya, Terowongan tambang batu bara Mbah Suro ini ditangani langsung oleh Balai Arkeologi Pusat. 
Di dalam terowongan berhawa sejuk dan selalu tergenang oleh air ini masih dapat kita saksikan dengan jelas di dinding-dindingnya yang masih penuh dengan kandungan batu baru berkualitas tinggi.






(lupa kalo ada larangan dilarang motret hehehe)

Museum Kereta Api SawahLunto




Museum Gudang Ransum


this is like the hugest steamer I've ever seen - sistem pemanasan dengan uap
untuk memasak di dapur umum jaman Belanda


Malamnya, kami menginap di guest house yang super nyaman dan dimiliki oleh seorang Ibu yang sudah cukup sepuh tapi masih enerjik. Kami semua memanggilnya Oma. Kebetulan, anak Oma yang tinggal di kota lain sedang berkunjung ke Sawah Lunto, akhirnya kami diajak jalan-jalan melihat kota Sawah Lunto di malam hari dari atas bukit (Puncak Cemara namanya) dan menikmati keindahan gemerlap lampu kota. Sayangnya hujan tak memuluskan rencana tersebut, sehingga kami hanya sebentar lalu kembali lagi ke bawah. Yang paling seru dari semuanya adalah, kami berkeliling dengan mobil bak terbuka, Seru banget!

  
(picture credit to teman seperjalanan Fendy Mapariza)



Minggu 27 Januari 2013 - Last Day in Sumatera Barat

Agak sedih juga cuma ngerasain kebaikan Oma sehari semalam saja. Tahu begitu rasanya suatu hari ingin deh balik lagi ke tempat Oma di Sawah Lunto ini. Setelah berpamitan, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Padang dengan melewati beberapa spot keren seperti :

Perkebunan teh Solok.
Sementara penghasil teh lainnya di Asia seperti Srilanka hanya memiliki satu daerah perkebunan Teh di Nuwara Eliya saja, di Indonesia ada banyak perkebunan-perkebunan Teh yang tersebar di beberapa tempat. Salah satunya di Solok. Kami berhenti sebentar untuk menikmati bentangan hijau serupa permadani melapisi perbukitan di kanan-kiri jalan yang berkelok. 





Setelah singgah sebentar di Danau Atas dan Danau Bawah selepas dari Solok, akhirnya kami kembali ke Kota Padang. Jadwal pesawat kami yang ke Jakarta kebetulan malam hari, dan kami masih memiliki kesempatan untuk mampir ke beberapa tempat di Padang di hari terakhir ini. 

Danau Kembar alias Danau Atas Danau Bawah


Teluk Bayur hanya kami lewati begitu saja. Tujuan utama kami ke Pantai Air Manis dimana di lokasi tersebut terdapat legenda turun-temurun Malin Kundang yang terkenal tersebut. Tiba di pantai saya pribadi sih aga' kecewa. Pantainya berpasir hitam. Sementara sarana dan prasarananya masih sangat minim. Di tambah kurang tertibnya pengunjung yang datang yang masih sembarangan memarkir kendaraan dan membuang sampah-sampah mereka tidak pada tempatnya. Nothing to see

Legenda batu Malin Kundang - yang sebenarnya hanya buatan manusia ini - terletak di ujung sebelah kiri dari pintu masuk. tak ada ombak pantai yang berarti saat itu. Di tambah banyaknya pengunjung yang ingin berfoto di dekat 'patung Malin Kundang'  


Pantai Air Manis yang terkenal akan legenda Malin Kundang-nya

Batu Malin Kundag yang kesohor itu


Selesai berpanas-panas di pantai, mobil sewaan kami kembali meluncur menuju sebuah rumah makan khas kota padang.  Iya, kami akan menikmati lezatnya es krim durian nyam-nyam...Membayangkannya saja sudah membuat liur saya menetes haha~


Foto warung Es Durian Iko Gantinyo, tapi makan Esnya di seberangnya hahaha


Ada dua tempat makan (atau minum) Es Durian yang sangat terkenal di Kota Padang dan letaknya sama-sama di Jalan Pulau Karam. Lebih hebatnya lagi tempat makan tersebut lokasinya persis berhadap-hadapan. Hanya jalan raya yang tidak lebih lebar dari 5 meter saja yang memisahkan keduanya. Warung Es Durian 'Iko Gantinyo' VS  'Ganti Nan Lamo' 

Saat itu rasanya ingin mengundi dengan cara gambreng saja menentukan warung mana yang harus dicicipi (atau cang..kacang..panjang...) Tapi karena yang lain mayoritas memilih Ganti Nan Lamo, akhirnya saya nurut saja dan ikutan mencoba Es Durian di situ. Rasa esnya sih.....biasa aja, hehehe....

Setelah selesai bersantap Es Durian sambil haha hehe, kami melanjutkan sisa perjalanan kami. Yang pertama menuju Jembatan Siti Nurbaya lalu yang terakhir nongkrong di pinggir Pantai Padang untuk menghadang momen matahari tenggelam. During the sunset moment has always been a magical moment for me, mungkin karena waktunya cuma sebentar, jadi berkesan banget.

So, its a wrap! selesai juga menjelajah Sumatera Barat dalam waktu singkat. Semoga suatu hari bisa datang lagi ke SumBar, one of a must visit Province!

Pemandangan dari atas jembatan Siti Nurbaya

My beautiful Sunset at pantai Padang, love it!


*NB : 6 Kota yaitu Padang - Bukittinggi - Payakumbuh - BatuSangkar - Sawahlunto - Solok


Salam Jalan-jalan Hore!


16 comments:

yunita dwi h said...

jadi pingin juga. berburu sunsetnya.
hummhh keren ya mmbak.
eh mbak untuk tempat penginapannya kok ga dikasih tau bayarnya berapa??
heheh,, :D

Tatz Sutrisno said...

Hi Yunita Dwi, thanks sudah mampir :)

Untuk di Hello Guesthouse Bukittinggi ini harganya :
Single room; 100.000
Double room; 120.000
Room for 3 persons; 175.000
Room for 4 persons; 250.000
Room for 6 persons; 400.000

Untuk di SawahLunto :
Non AC/kamar :170k
AC/kamar: 200K
satu kamar bisa 2-3 orang :)

lovelydebz said...

waaaahhhhhh jadi pengen kesini deh...kira2 bisa ke Medan dan ke Aceh juga sekalian kali ya Tatz...thank ya foto2nya keren lho...

Tatz Sutrisno said...

@debbie

Thanks deb :)

Waktu di Sawahlunto ketemu Solo backpacker yg lagi keliling Sumatera dari ujung ke ujung malah. Jadi bisa banget kayanya sekalian ke Aceh sama Medan juga asal waktunya banyak :D

mawi wijna said...

menarik mbak! boleh juga nih jalan-jalan ke Padang, klo dapet tiket murah, hehehe. Saya mau nyari air terjun. Terakhir kali ke Padang sih pas tahun 2002.

Tatz Sutrisno said...

@ mawi wijna Sumatera Barat seru banget buat jalan2 keluarga atau sama temen-temen, recommended! ^^

Thanks udah mampir yaa~

nanien said...

Hi Dear.. :)
Lagi blog walking nemu blog kamu nih. Btw boleh di share ga info untuk sewa mobilnya? Kebetulan aku minggu depan bakal jalan juga nih ke padang.

terima kasiiih :)

Tatz Sutrisno said...

Hi Nanien thanks sudah mampir :)

untuk sewa mobil, waktu itu kami dengan www.kayugadangrentalmobil.blogspot.com (08126712462)
waktu pergi sekitar Januari 2013, kami sukses dapet Kia Preggio plus supir 650 ribu/hari include bbm.
Harga bisa di nego, silakan kontak langsung aja ya for more detail :).

-tatz-

Sinta Agustina said...

halo kak, salam kenal! :)
lagi blogwalking dan nemu blog ini. hwaaaww keren kak jalan-jalannya! dan saya setuju banget kalo Sumatra Barat itu 'one of a must visit Province'. kebetulan saya juga orang Minang :)

Tatz Sutrisno said...

@Sinta Agustina,

Hi, thanks sudah mampir ke blogku ya ^^ - Sumbar emang worth to visit banget deh! :)

Yusuf Ahmad said...

Halo boleh nanya itu guesthouse yg di sawahlunto namanya apa? Apakah ada kontaknya?

Ryan Neste said...

Bagaimana dengan naik angkot, gampang ga ya kalo liburan naik angkot ke Sumbar, maklum anggaran ngirit,hehe

rio artha said...

Mau liburan atau coba travelling ke Bangka Belitung.
http://aderiorental.com

Novia Hippo said...

Thanks yaaa buat penjelasannya lengkap bgt.. sis.. mau nanya juga kalo misalnya solo aja mau pergi ke jembatannya la, danau2nya itu pake transportasi umum bisa ga ya? Thanks before..

Rental Mobil Padang said...

Asyik ceritnya, fotonya juga bagus2...
Rental Mobil Padang

ita rahmawati said...

Hy salam kenal, saya ingin trip kesana tpi tepatnya di solok desa kubung karena saya baru ngetrip kesana jadi mohon info dari bandara saya harus naik kendaraan apa, trs penginapan murah ala2 backpacker, trs tempat penginapan yg paling deket dengan desa kubung solok Thanks