Naik Kereta Api, tut...tut...tut... (Sebuah perjalanan menuju Bromo)




Aku menyusuri gerbong demi gerbong kereta jawa ini. Pukul delapan malam perutku menyanyikan orkestra keroncong(an) seperti biasa. Mengingat aku telah duduk lebih dari tiga jam, maka kuputuskan untuk makan langsung di restorasi kereta. 
Aku belum pernah makan di restorasi dan tak kusangka restorasi kereta itu  terletak tiga gerbong dari tempat dudukku. Jadi yeah, aku seperti petugas penagih tiket yang menyisir bangku-bangku penumpang dengan sorot mataku.

Restorasi kereta menempati sebuah gerbong khusus. Sepertinya ukurannya lebih pendek dari gerbong penumpang. Tiba di sana, aku sedikit tertegun pada pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Para 'tukang masak' yang berjajar di sebelah kiri lalu ada  meja berlekuk-lekuk yg menempel di sisi jendela seberangnya  dengan kursi putar tinggi yang juga menempel pada lantai secara permanen. Itu adalah meja makan untuk para penumpang yang ingin makan langsung di situ, ya seperti aku ini contohnya.

Jangan membayangkan sebuah dapur restoran yang penuh dengan printilan dapur, restorasi kereta hanya seperti dapur bersih dalam rumah mewah. Semua pemanas yang ada menggunakan alat instan. Tidak ada tungku memasak, gantinya adalah microwave. dispenser pemanas dan entah apalagi. 
Ada sebuah meja di tengah gerbong tersebut. Seperti meja saji sekaligus meja pembatas/bar berbentuk panjang Sisanya adalah ruang lalu lalang yang cukup sempit yang jika dua orang berpapasan, maka orang yg duduk di kursi putar itu harus menempelkan tubuhnya pada meja makan.

Ketika ku tanya ada menu apa saja ke salah satu petugas yang terlihat sibuk sekali, ia  langsung menyebutkan 3 nama menu makanan yang tersisa 
    
    "Cuma tinggal rawon, soto sama mie rebus, mbak" katanya mantap, sementara tangannya sibuk menuang-nuang mie goreng yang dibuat secara bancakan.

    "Mie goreng masih ada?" Tanyaku sambil mata ku terus menempel pada mie goreng di piring-piring saji  yang masih mengepul ngepul uap panasnya. Rasa laparku sudah sampai kerongkongan. 

Aku tidak salah dengar, tadi. Karena mie goreng tidak ia sebutkan, kemungkinan menu tersebut masih ada sangat kecil sekali. 
   
    "Ndak ada, mbak. Tinggal rawon, soto sama mie rebus saja" katanya lagi mengulang tiga menu yang tersisa tadi. 

Namanya juga usaha, siapa tahu beneran masih ada, cuma dia lupa sebut saja.

    "Ya sudahlah, Rawon saja" kataku pasrah. 

Wah, untung besar mungkin restorasi kereta Majapahit malam ini. Makanannya sedikit lagi habis, padahal masih jam 8 malam dan masih sekitar 10 jam lagi kereta ini mencapai tujuan akhir. 
Iki kepiye..

Setelah menunggu sekitar ... Setengah jam lebih, akhirnya Rawon hangat plus milo panas tersaji di depanku.
Sayangnya, uap panas lebih mengepul dari minuman miloku ketimbang dari mangkok rawon. Duhh...
Terakhir, aku malah memesan sebotol air mineral dingin.
Usai melahap rawon dengan rasa seadanya itu, aku segera membayar dan berjalan kembali ke gerbong tempat dudukku.

Sungguh suatu usaha yang cukup keras berjalan di lorong gerbong kereta yang sedang melaju. Apalagi gelas milo ini benar-benar panas dan penuh. Tak ayal dengan gaya seperti pendekar mabok, miloku sedikit bertumpahan ke tangan. Lengket dan panas.

Masih setengah terhuyung, akhirnya aku tiba kembali dengan selamat di tempat dudukku. Huff...

***

Stasiun Malang! yaiy!


Perjalanan saya kali ini menuju Bromo di Malang diawali dengan jenis transportasi yang sudah lama sekali tak saya gunakan; Kereta Api. Mengingat Tiket pesawat yang tidak lebih murah daripada kereta, akhirnya saya  memutuskan untuk naik kereta saja. Sembari menyicipi kembali seperti apa naik kereta. Sudah tahunan kayanya saya ga' naik moda klasik ini. 

Untuk ke Bromo, biasanya tujuan awal kita adalah Kota Malang, Jawa Timur. Ada tiga jenis Kereta Api Diesel menuju Malang dari Jakarta yang dapat dipilih sesuai tingkat kenyamanan dan tentunya kocek. 
Kereta Matarmaja adalah jenis kereta Ekonomi non AC yang namanya mulai mencuat gegara film adaptasi novel; 5CM. Satu tingkat di atas Matarmaja ada Kereta Api Majapahit. Kereta Ekonomi dengan AC yang keberadaannya relatif masih baru. KA Majapahit ini tadinya bernama KA Singosari (kelas bisnis), tapi mulai September 2012, Singosari resmi dihapuskan dan di ganti Majapahit
Dan yang terakhir adalah KA Gajayana kelas eksekutif. Stasiun keberangkatan KA Majapahit dan Matarmaja adalah stasiun Senen. Sedangkan Gajayana di stasiun Gambir. 

Untuk harga, KA-KA tersebut ternyata fluktuatif tergantung permintaan dan musim (low season atau high season) dan tentunya jarak tujuan. Kemarin saya memilih KA Majapahit sebagai pengiring saya menuju Kota Malang. Selain harga dan fasilitas yang berbeda, jarak tempuhnya juga ternyata berbeda. Dengan KA Majapahit, waktu tempuh dari Jakarta ke Malang adalah sekitar 17-18 jam saja (pingsannn). But hey, harus dicoba. Dari pada penasaran kannn...

Yang saya sukai dari Majapahit, ternyata keretanya memang relatif masih baru. Walau berlabel kelas ekonomi, KA Majapahit telah dilengkapi AC di setiap gerbongnya. Lumayan banget bikin nyaman kalau siang hari, namun ketika malam, hembusan ACnya bisa lebih sadis, jadi siap-siap bawa jaket yak!. Hal yang saya sukai kedua adalah LED running text di setiap gerbong yang menunjukan posisi kereta sedang berhenti di stasiun mana saja serta nomor rangkaian gerbong dan petunjuk kursi. Dulu saya inget banget ketika ke Jogja dengan kereta ekonomi, begitu terbangun, saya mesti tanya-tanya dulu kereta sedang di mana karena tiba-tiba berhenti. 

Tapi karena tetap berlabel ekonomi, bangkunya masih berhadap-hadapan. Serta jarak antara kedua bangku tersebut tidak terlalu lega. Padahal dengan waktu tempuh perjalanan yang belasan jam itu, kita cenderung ingin meluruskan kaki ya. Belum lagi tempat duduknya yang kurang egronomis. 

Cukup tersiksa rasanya harus duduk dengan posisi tegak kaku seperti itu lama-lama. Paling-paling cara mengurangi rasa pegalnya kita harus rajin-rajin menggerakan tubuh dengan jalan-jalan di lorong kereta. Tapi bangku berhadap-hadapan ini enaknya kalau kita pergi bersama teman-teman atau keluarga. Jadi bisa ngobrol-ngobrol dan bercanda sampai puasss...

Untuk tingkat keamanan (hal yang paling utama yang saya tanyakan pada blog orang-orang yang nulis tentang kereta ini sebelumnya), Majapahit ternyata relatif aman bahkan untuk solo traveling seperti saya. Ketika saya pergi ke restorasi untuk makan, saya meninggalkan ransel saya tetap di atas rak kursi duduk saya. Tapi barang-barang berharga tetap saya bawa. Apalagi sekarang pihak KAI ternyata sudah menempatkan petugas keamanan di KA yang ikut serta hingga tujuan.  

Jarak antar kursi di depan kurang lega nih...*ih kaki saya kenapa jadi pendek gitu ya btw hahaha

Kalau masih siang, lebih baik nikmati pemandangan di luar jendela KA, kerennn

Begini kira-kira interior KA Majapahit

Running Text penunjuk lokasi

Jadi, kapok gak kalo mesti naik kereta ini lagi? Enggaaa...hehehe apalagi kalo ada barengannya, pasti seru dehhh. Seneng juga KAI sepertinya mulai bisa meningkatkan pelayanan mereka ya. Tinggal nunggu KAI bikin kereta kompartemen yang ada kasurnya ya pasti makin okeh. Jadi, ayo ikutan dukung dengan cara ga merusak fasilitas kereta dan stasiun ^^ 

*) tentang Bromonya akan disimpen di cerita selanjutanya~ 

10 comments:

lovelydebz said...

aku pecinta kereta apiiiiii naaaaaaaa... karena nggak perlu takut sama supir yang nyetir asal-asalan...dan nggak akan pernah mabok..dan bisa bobo tenang..heheheeh..pemandangannya juga keren...rustic gitu....apalagi kalo lewat sawah... mau tau tatz dari statiun Malang itu berapa lama ke Bromo? aku dulu naik dari Surabaya soalnya naik motor lagi ...

Tatz Sutrisno said...

@lovelydebz

Bener bangettt! hahaha...

Kalo dari Malang ke Bromo by car kira-kira 2 - 3 jam deb

DebbZie Leksono said...

Jakarta ke Malang 18 jam ? huihhhh lama banget ya. Duluuuu aku pernah ke Bandung dari Surabaya sekitar 12 jam gitu dech. Lumayan, pinggang sampe encok, hihihi

Rampok said...

kapan ya ke jawa biar bisa naik keyeta api

Tatz Sutrisno said...

@Debbzie iyaaa 18jam! super encok hahahaha...tapi akhirnya bisa ngerasain....lumayan oklahh apalagi kalo ada barengannya :)

Iron Maiden said...

Sekarang ada 4 pilihan. Pilihan tambanannya adalah KA 34 Bima. Kalau ingin duduk di kereta lebih sebentar dan guncanagan yang jauh lebih rendah, naik aja KA ini. Cuma 14 jam. Cuma, repotnya, KA ini berganti jadi KA lokal ketika sampai di surabaya dulu(rute awal Bima adalah ke surabaya), KA ini pulang ke dipo dulu, jadi mbak harus turun dulu, 1 jam kemudian, baru berangkat lagi.

Anonymous said...

Ada colokan nggak gan

Amar Botak Koclok said...

Sekarang ada 5 Pilihan,BIMA lewat gubeng,juga Gajayana lewat selatan 500.000an, matarmaja lewat selatan 100.000an, majapahit lewat selatan 300.000an, nah yang baru adalah KA JAYABAYA Gambir-semarang-surabaya pasar turi-surabaya gubeng-malang itu harganya sama dgn Majapahit klo malem malem gk kedinginan ac soalnya klo malem Jayabaya lewat pantura, kan pantura terkenal panasnya

Amar Botak Koclok said...

Eh jayabaya itu dari SENEN bukan GAMBIR

Ribi entertainment said...

Betul, alternatif terbaru ada KA Jayabaya, cuma minusnya nyampe di tempat tujuan tengah malam sekitar jam 1 dinihari..