[Japan Trip] Yokoso Kyoto!



YOKOSO JAPAN! (Welcome to Japan).

Begitulah judul di salah satu brosur yang sempat saya baca ketika keluar dari area pemeriksaan terakhir di Kansai International Airport (KIX) di Osaka, Jepang. Brosur-brosur tersebut tersusun rapih dengan berbagai macam informasi dalam beberapa macam bahasa asing. Sedangkan meja serta kursi yang ada di depan rak brosur teronggok kosong. Bukan karena yang ngejagain lagi istirahat sih, tapi karena waktu itu memang sudah pukul setengah dua belas malam. 


Pesawat low cost carrier kami mungkin adalah pesawat terakhir yang tiba di KIX malam ini . Sesuai rencana, kami memutuskan menginap di bandara. Lagi pula, selain karena sudah tidak ada lagi kereta yang beroperasi di malam selarut ini, menginap di airport adalah salah satu cari untuk menghemat budget. Maklumlah, namapun jalan-jalan irit :))

Sebenarnya menginap di bandara itu memang sedikit berspekulasi sih. Apakah kita bakal menemukan tempat yang cukup nyaman untuk sekadar meluruskan punggung atau tidak. Sedangkan, ini kali pertama saya dan seorang teman saya memutuskan 'menginap' di KIX. 

Berbekal informasi dan saran dari beberapa teman di Indonesia yang bilang, "Coba saja menginap di dekat bangku-bangku tunggu di depan Lawson bandara" Akhirnya kami menyeret 4 wheel cabin size luggage kami menuju lantai dua di mana si Lawson itu berada. Lawson adalah convenience store atau 'kombini' - biasa orang Jepang menyebutnya. Keberadaannya bak cendawan di musim hujan, banyak dan menyebar di mana-mana. Bahkan jaringan Lawson ini sudah ada di Indonesia. 
Kombini ini memang bisa jadi adalah pertolongan pertama terhadap kelaparan khususnya buat turis berbudget rendah macem saya. Mengganjal perut mencari sarapan (atau makan malam) dengan biaya hemat bisa kita dapat di kombini-kombini yang ada di sekitar kita. 

So, begitu tiba di lantai dua ternyata ada banyak puluhan orang seperti kami yang juga memutuskan untuk menginap di bandara KIX. Jadilah malam itu kami tidak merasa kesepian. Bahkan ada bule yang juga memutuskan untuk menginap di bandara, padahal tujuannya bisnis bukan seperti kami yang cuma mau wandering around Jepang.

Sudah mencari posisi aman untuk tidur
Info Center di dekat Lawson ini juga menyediakan selimut 
untuk yg menginap di KIX

Lihat deh, bangku-bangku tunggunya juga sangat nyaman buat dijadiin tempat tidur. Jenis bangku panjang armless dan empuk. Ada empat atau enam kursi yang berjajar yang bisa untuk tidur 2 orang seperti saya dan teman saya. Bonusnya, kami ternyata bisa meminjam selimut dari Information Center yang buka 24 jam. Letaknya di sebelah kanan kombini Lawson. Selain Lawson dan Information Center, McD juga buka 24 jam di area yang sama. Hohoho...engga bakal takut kelaparan dan kehausan tengah malam deh.

Oh iya soal selimut tadi, kita hanya tinggal datang ke kantor Infomation Center, bilang saja ingin pinjam selimut lalu mendaftar nama, dan selimut langsung seketika dipinjamkan. Selimut tersebut mesti dibalikin esok pagi jam 6 teng. Tak lama setelah kami sudah mendapatkan bangku untuk tidur, dua orang polisi jepang (mungkin polisi khusus keamanan bandara) mendatangi kami, satu persatu. Oh, ternyata kami di data dan sedikit ditanya-tanya soal tujuan kami ke Jepang. Karena polisi-polisi tersebut ramah dan bertanya dengan cara baik-baik, kami jadi tidak merasa seperti dicurigai. Sepertinya memang hanyalah prosedur rutin setiap hari.

Selimut dan maps sudah ditangan, tinggal bobo ^^
KIX Lounge dan ratenya 

Sebenarnya, kalau merasa ingin lebih private atau kurang nyaman dengan bangku ruang tunggu, KIX juga menyediakan Lounge untuk beristirahat. Hanya saja berbayar dan harganya seperti satu malam menginap di hostel. Jadi ya kami lewatkan saja opsi ini dan kembali ke tempat duduk/tidur lagi. Kita juga bisa mandi di Lounge tersebut dengan membayar 500yen kalau kita butuh mandi. Ini juga optional sih, kaya saya yang lebih milih ga mandi daripada mesti bayar, hahaha...


Esok paginya, masih di dalam area KIX kami mencari kantor JR Line untuk menukarkan voucher JR Pass untuk turis asing yang sebelumnya telah kami beli di luar Jepang. Untuk informasi mengenai JR Pass ini, saya bakal ceritakan di postingnya yang berbeda ya biar lebih kompit dan terfokus. (Klik di sini soal JR Pass dan cara belinya).

Antrian ternyata sudah mengular sampai keluar kantor JR di KIX. Lokasinya di lantai satu pintu keluar menuju stasiun. Untuk pertama kalinya akhirnya kami bersentuhan dengan udara Jepang di musim gugur bulan Oktober. Brrr...sejuk dan menyegarkan. Seperti di Puncak gitu deh (norak hehehe)

Tiket JR pass yg belum ditukar
Lepas menukarkan tiket fisik JR Pass yang mesti kami bawa kemana-mana ini untuk dapat menggunakan transportasi dari JR sebagai pass terusan, kami meluncur menuju stasiun yang berjarak selemparan handuk basah karena berhadap-hadapan dengan kantor JR. Kereta Jepang  pertama yang kami tumpangi dari KIX menuju Kyoto adalah Haruka.
Haruka adalah kereta JR limited express yang kami rasa paling efisien kalau dari KIX menuju Kyoto. Kalau kita tidak menggunakan 'kartu sakti' JR Pass ini maka kita mesti bayar 1.830 Yen sekali jalan (kira-kira 216 ribu rupiah). Maka dengan wajah masih cengar-cengir gembira, naiklah kami ke Haruka. Awalnya saya pikir Haruka ini sejenis shinkansen. Sampai saya beneran naik shinkansennya yang ternyata beyond my expectation ^^. Padahal Haruka aja udah bagus banget. Well, we are talking about the train di negara yang buat gitu loh hahaha...

Di dalam Haruka dgn reserved seat tiket ^^
Perjalanan dari Kansai Airport ke Kyoto makan waktu sekitar 1 1/2 jam. Dan rugi banget deh beneran kalau cuma dipakai buat tidur. Longgoklah jendela kereta, lempar pandangan seluas-luasnya ke luar. Pasti bakal terkesima dengan pemandangan di luar yang berlarian namun masih nampak jelas. Setidaknya itu yang saya rasakan. 

Jajaran rumah-rumah yang mayoritas berlantai dua tapi mungil menghias rapih di sepanjang jalan yang saya lalui. Persis seperti rumah-rumah di film Doraemon deh. Mobil-mobil yang tidak terlalu banyak terparkir di beberapa tempat parkir umum. Lalu melewati ladang dan perkebunan yang sudah sangat moderen. Melewati sungai yang jernih, lapangan softball yang ramai (karena weekend), taman-taman bermain yang rapih dan bersih, serta hal-hal lain yang jarang sekali ditemukan di negeri sendiri - terutama menyangkut soal kerapihan dan kebersihan. Saya rasanya kepingin banget bisa tinggal dan menetap bersama keluarga di salah satu rumah itu hehehe...

Ceceran sampah jadi pemandangan langka di sana ^^


Hasil jepretan dari atas Haruka


Jatuh cinta sama KYOTO



Kyoto! 

Kota sejarah yang tetanggaan dengan Osaka ini ternyata menyimpan begitu banyak keindahan. Kotanya berjalan dengan tenang dan santai (menurut saya sih). Kecuali saat kita pertama datang di stasiun kereta Kyoto. Ribuan orang berseliweran, hampir membuat kami linglung mesti jalan ke arah mana. Ya, namapun stasiun ya ceu, pasti rame dong ya sama manusia. Tapi saya sempat mengecek tanggal juga, ini tanggal berapa ya kok orang-orang sepertinya banyak yang bepergian karena geret-geret koper juga sama kaya saya. Ternyata selain hari ini hari Minggu, besoknya Jepang tanggal merah...pantesannn. 

Masih dengan tampang cengar-cengir mirip Kabayan sabah kota, saya buru-buru mengikuti langkah teman saya yang sama-sama menggeret kopernya menuju pintu keluar. Tujuan pertama kami yaitu taruh koper di Hostel tempat kami menginap, Hana Hostel Kyoto.
Hana Hostel kira-kira berjarak 10 menit jalan kaki dari stasiun Kyoto. Menginap di hostel-hostel yang dekat dengan stasiun itu memang bikin irit dan memudahkan perjalanan kita sebagai pelancong pribadi. Jadi engga mesti pakai taksi (yang mana mehel bangeddd) kecuali kepepet. Karena belum waktunya check-in, kami boleh menaruh koper-koper kami dulu sambil menyelesaikan pembayaran sewa kamar.  

Yes! jalan-jalan kitahhh...

Masih sekitar jam sebelas menuju siang. Jam makan siang saja belum tiba. Tapi kami sudah di Kyoto. Kira-kira mau kemana kita hari ini ? 

Distrik Higashiyama







Sebagai turis, kalau ingin keliling ke lokasi-lokasi turistis di sekitar Kyoto akan lebih baik jika kita beli 'one day pass' ticket bus yang bentuknya seperti kartu telepon top up jaman hape belum populer. Harganya 500 Yen, tapi kita boleh bebas turun naik dengan bus nomor apa saja seharian selama masih di Kyoto. Belinya bisa di vending machine di depan halte bus di Stasiun Kyoto (ngantri cynn-mungkin karena waktu itu hari libur) atau tanyakan Hostelnya jual atau tidak. Karena harganya di mana-mana sama. Saya sendiri sih beli di receptionist hostel saya ^^

Nomor 100 adalah bus yang paling populer karena menjangkau lokasi-lokasi wisata di Kyoto. Sebut saja ada Gion - daerah geisha itu dan distrik Higashiyama yang isinya bangunan-bangunan bersejarah yang masih dirawat sampai sekarang. Lalu ada Kiyomizudera. Sebuah sebuah kuil besar di ujung dari Higashiama's path


Tampak samping - gate Kiyomizudera
Gate menuju Kiyomizudera Temple

Lihatkan...
Lagi rame banget distrik Higashiama. Bahkan tadi naik bus pun sampai penuh dan terpaksa berdiri. Untung sih gak lama. Yang paling bikin gemes adalah jalanan yang diapit oleh jajaran toko-toko yang masih bergaya jepang tempo dulu yang berjajar di sepanjang Higashiama menuju Kiyomizudera Temple.
Seru dan ramai manusia. Yang dijualnya pun bervariasi. Dari mulai cemilan, kue-kue cantik buat oleh-oleh, cinderamata, sampai restoran. Kalau masuk ke toko-toko ini lihat sign-nya ya. Biasanya mereka ngelarang orang yang sedang makan es krim untuk masuk. Mungkin karena takut dagangan mereka kotor oleh lelehan es krim kita. Lalu biasanya sih ga boleh di foto. Saya jadinya nyolong-nyolong foto deh hehehe...

Hmm...habis ini saya mau ke Silver Castle atau Ginkakuji tapi mau cari makan siang dulu.

Foto-foto trip Jepang saya bisa di lihat di blog foto saya yang indanggg: 

(Bersambung)

6 comments:

Anonymous said...

aaaaaaaaaakkk, aku iriiiiiiiii
jepang bagus bangett yaaaa

-JhaJha-

lovelydebz said...

Tatzzzz....foto pake kimono dong....hehehhehehe...wah aku mau nih transit ke Jepang..karna baca blogmu jadi berani....hehehehehehe

Tatz Sutrisno said...

@jhajha

Jepang itu bikin pengen kesana lagi deh Jha...hihihihi

@Debz
Gak sempet nyobain Kimono sayangnya hehehe...
Iya, engga kuatir lagi kalo transit di Jepang, ok bgt sih soalnya.

Fajar Rayadi said...

mba boleh minta itinnya ga?pengen nyontek hehehheheh..email grace_30182@yahoo.com

Fajar Rayadi said...

emailnya grace_301182@yahoo.com,,maaf kurang hehheh

Devina Citra said...

Mbak, minta travel itinerarynya buat pegangan ke Jepang.. tlng emailkn ke devina_citra@yahoo.com
Arigato gozaimasu!